Senin, 05 Desember 2011

Sebuah Surat dari Ayah dan Ibu


Seseorang mengulurkan tangannya, mencoba meraih sesuatu dimeja yang berada di samping tempat tidurnya.
“pyyaarrr”.
Tanpa sengaja dia menjatuhkan benda yang berada di atas meja. Beberapa detik setelah bunyi tersebut seseorang lain bergegas datang, raut wajahnya tampak jengkel melihat kejadian itu.
“Aarrgghhh, apa-apaan ini? kau memecahkannya lagi? sudah berapa banyak yang kau pecahkan?”, marah seorang pemuda.
“Maafkan aku anakku, sungguh aku tak bermaksud melakukan semua itu. Aku yakin sudah meraih gelas itu tadi, aku tidak tau kalau ternyata malah menjatuhkannya.” gumam lelaki tua ini dalam hati.
“Apa kau tidak bisa menjawab semua pertanyaanku? huh, sepertinya kau benar-benar tuli sekarang”, bentak pemuda itu sekarang.
“Tidak, aku tidak tuli nak. Mengapa kau mengatakanku seperti itu Mahesa, anakku”, lelaki tua ini menggumam lagi karena tak ada tenaga untuk mengeluarkan suara.
“Sudahlah, lebih baik aku pergi meninggalkanmu lelaki tua. Aku akan menghubungi Sisca untuk menemanimu selama aku pergi, agar tidak semakin banyak perabotanku yang akan kau pecahkan”, ujar Mahesa sembari meninggalkan ayahnya.
****    ****    ****
“Ya Tuhan, kenapa anak yang aku besarkan menjadi seperti ini. Sesungguhnya aku ingin dia merawatku dengan penuh kasih. Apakah dia sudah tidak mau merawat aku? lelaki yang semakin tua dan hanya menyusahkan orang-orang disekelilingku?”, cerita lelaki tua kepada Tuhannya sembari mentikkan air mata.
“kriieekk”, Seseorang telah membuka pintu kamar.
“Selamat siang ayah, hari ini Sisca akan menjagamu selama kakak tidak dirumah. tetapi, mengapa ayah menitikkan air mata? apa yang sedang terjadi”, ujar Sisca.
Sang ayah hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan anaknya.
“Terima kasih Tuhan, kau telah menyejukkan hatiku dengan mendatangkan putriku ini”, gumam ayah.
“Ayah pasti belum makan siang kan?, karena kak Mahesa tidak bisa memasak, tunggu sebentar yah aku akan membuatkan makanan yang lezat dan kita akan makan bersama. Aku janji tak akan meninggalkanmu lama”.
Beberapa menit kemudian,
“Ayo ayah kita makan  bersama, apakah ayah mau kalau kita makan di ruang makan?”, tanya Sisca lembut.
“ I..i..iya nak”, jawab ayah terbata.
“Baiklah yah, Ibu juga telah menunggu di meja makan”.
Makan siang ini terasa sangat tenang, ketiga anggota keluarga ini menikmati makanan mereka. Sisca menyuap sang ayah karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk melakukan itu sendiri. Ibu meski usianya tak jauh berbeda dengan ayah, namun dia masih bisa melakukan hal sendiri meski harus dilakukan dalam waktu yang tidak cepat dan berada di kursi roda. Selain itu, Sisca pun tak lupa mengajak bercengkrama kedua orang tuanya, tak jarang kedua orang yang telah lanjut usia itu menyunggingkan senyum bahagia karena ulah-ulah yang dilakukan putri bungsu mereka.
“Selesai, sepertinya ayah dan ibu harus beristirahat sekarang. Sini aku bantu kembali ke kamar, tapi sebelum istirahat, ayah minum obat dulu ya, supaya lekas sembuh”.
Ayah hanya menjawab dengan anggukan.
“Apa kamu mau ibu bantu nak?”, ujar ibu.
“Tidak  perlu bu, akan aku bereskan semua ini setelah mengantar ayah dan ibu ke kamar. lebih baik ibu menemani ayah beristirahat”.
Matahari telah terbenam yang menandakan hari mulai gelap. Sisca merebahkan tubuhnya di kursi, tangannya pun mulai meraih sebuah remote.
“Huh! kenapa tidak ada acara TV yang menarik sih”, gumamnya sendiri.
Akhirnya Sisca memutuskan untuk beranjak dari tempatnya sekarang, melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar.
“Yah, bu.. bolehakan kalau aku berada disini bersama kalian sekarang”
“Tentu anakku. Maukah kau mendegarkan ibu bercerita?”
“Pasti bu, akan aku dengarkan dengan baik semua yang ibu ceritakan”
“Apa kau ingat bagaimana kau saat kecil dulu?”
“Ingat, namun kenangannta mulai sedikit memudar bu”
“Kamu dan kakakmu, Mahesa. Kalian adalah dua orang yang sangat ibu cintai di dunia ini. Dulu, Mahesa selalu saja menginkan apa yang ibu atau ayah berikan kepadamu. Tak jarang dia selalu merengek sampai apa yang dia mau terwujud”, jelas ibu.
“Ah, iya. seperti saat aku berumur 4 tahun, waktu itu Ayah membelikanku sebuah balon. Kak Mahesa yang lebih tua 3 tahun dariku juga ingin balon sampai dia menangis agar ayah juga membelikannya balon seperti aku”
“Iya nak. Tapi, entah kenapa dengan Mahesa yang sekarang seakan-akan aku tidak menganal anakku sendiri. Dia selalu berbicara dengan nada suara yang hamir berteriak, bahkan tak jarang dia mengatakan ayah dan ibunya ini tuli. ingin rasanya ibu mengobrol seperti ini dengan kakakmu itu, tapi dia tidak pernah ada waktu untuk mendengarkan crita kami”, ujar ibu sembari meneteskan air mata.
“Jangan menangis bu, Sisca akan bicara dengan kak Mahesa tentang ini. Ibu tenang saja, tidak perlu memikirkan hal-hal yang seperti ini agar tidak jatuh sakit”, jawab Sisca penuh perhatian.
“Karena ayah dan ibu merasa waktu kami tidak akan lama lagi nak”
“Apa yang ibu katakan? Jangan berbicara yang tidak-tidak seperti itu”
Terdengar suara pintu terbuka. Sisca yang menyadari hal itu segera bangkit dan pamit untuk meninggalkan kamar orang tuanya.
“Sepertinya kak Mahesa sudah pulang bu, Sisca buatkan kakak minum dulu ya”
****    ****    ****
“Malam kak, kenapa hari ini pulang sangat larut?”, ujar Sisca saat bertemu muka dengan Mahesa.
“Sudah jangan banyak tanya kamu. Dua orang tua yang tak berdaya itu sudah tidur?”
“Kak, jangan bicara sseperti itu. Apa ayah dan ibu pernah berbuat salah sampai kakak mengatakan mereka seperti itu?”
“Tentu tidak. Tapi, aku sudah muak dengan mereka. Mereka itu sudah tua, menyusahkan, belum lagi..”
“Cukup kak, jangan teruskan lagi ucapanmu”, potong Sisca.
“Terserah kamu sajalah, aku capek, mau istirahat saja daripada dengar omonganmu itu”
Mahesa langsung melenggang meninggalkan Sisca yang berdiri didepannya. Didalam kamar, Mahesa merenung apa yang telah dilakukan akhir-akhir ini kepada kedua orang tuanya. Tanpa dia sadari, ia telah menitikkan air mata. Setelah Mahesa tersadar, ia langsung berlari menuju kamar orangtuanya.
“Ayah, Ibu maafkan semua sikap Mahesa selama ini”
“Sudah nak, jangan menangis. Kami seudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf”, sahut ibu.
“Tidak seharusnya aku berbuat seperti itu kepada kalian”
“Cukup nak. Jangan kau teruskan lagi”
Sejak kejadian itu, keluarga ini semakin menjadi keluarga yang bahagia. Namun 4 bulan kemudian, Ayah Sisca dan Mahesa meninggal dunia. Duka yang sangat mendalam menyelimuti keluarga Mehesa, namun terdapat suatu penyeselan pada diri Mahesa karena pada saat-saat terakhir hidup sang ayah, dia tidak berbakti.
“Sudah kak, kita tidak seharusnya terus belarut dalam kesedihan”, Sisca membuyarkan lamunan Mahesa.
“Eh, iya. Tapi, aku masi menyesal disaat-saat terakhir ayah, aku tidak membuatnya bahagia”
“Sebenarnya ayah selalu bangga dengan semua prestasi kakak”
“Bagaimana dengan keadaan ibu?”, Mahesa mengalihkan pembicaraan.
“Ibu? Kondisi ibu semakin menurun kak”
“Kita bawa saja ke dokter untuk memastikan kondisi tubuh ibu”
“Baiklah, akan aku siapkan semua keperluan ibu”
****    ****    ****
Dikamar, Ibu menulis sebuah surat diatas kursi rodanya. Entah apa yang dia tulis, tapi dia menitikkan air mata kemudian tersenyum. Secara tiba-tiba Mahesa masuk kedalam kamar ibu, dengan cepat ibu menyembunyikan surat yang telah dia tulisnya kedalam laci meja riasnya.
“Bu, sedang apa?”
“Sedang melamun, ibu merindukan ayahmu, nak”
“Ayah juga pasti merindukan ibu disana, Mahesa yakin ayah sudah tenang di alam sana”
“Iya, tapi ibu ingin ikut bersamanya”
“Apa yang ibu katakan? jangan mengatakan hal yang tidak-tidak bu. Aku dan adik ingin bersama ibu lebih lama. Jangan tinggal kami dulu”
“Ibu juga menginkan bersama kalian lebih lama lagi nak, tapi ibu merasa waktu itu tidak lama lagi”
“Sudah, ibu jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, lebih baik kita pergi ke dokter saja ya”
“Tidak perlu nak, jangan paksa ibu untuk pergi ke dokter. Ibu mohon”
“Baiklah, kalau begitu aku bantu ibu mendorong kursi roda, kita berkumpul diruang keluarga”
“Terima kasih banyak atas semua waktu yang telah kau luangkan untuk ibu yang sudah tidak berguna ini. Tapi, tolong ambilkan surat yang ada di laci meja rias ibu, nak.”
Mahesa bergegas mengambil surat yang diminta oleh ibu, kemudian mereka segera menuju ruang keluarga untuk berkumpul bersama. Mereka menonton TV bersama, terkadang mengobrol dan juga bercanda bersama.
“Nak, kalian harus membaca surat yang ibu tulis ini, namun kalian baru boleh membaca jika ibu telah meninggal. Kalian mau berjanji pada ibu?”, ujar ibu membuka pembicaraan sambil menyerakan sepucuk surat kepada Mahesa.
“Baik bu, akan kami turuti semua yang ibu pinta”, jawab Sisca sedih.
“Terima kasih karena kalian telah menjadi anak-anak yang bisa ibu banggakan. Ibu sayang sekali dengan kalian berdua.”
“Kami juga sangat sayang pada ibu. benarkan Sisca?”, sahut Mahesa.
Sisca hanya menganggukan kepala lemah.
“Mata ibu terasa lelah, menonton TV terus menerus. Bolehkah kalau ibu beristirahat lebih cepat?”
“Tentu saja, biar Sisca saja yang mengantar ibu ke kamar ya”
Sisca langsung berdiri dan membantu ibu mendorong kursi roda, mereka beranjak meninggalkan ruang keluarga.
“Sepertinya kamu juga harus cepat pergi tidur, bukankah bsk harus pergi kuliah?”
“Iya, bu”
“Katakan juga pada kakakmu utuk cepat pergi tidur. Sepertinya, malam ini ibu tidur lebih nyenyak dari biasanya. Selamat malam anakku”, kata ibu sambil tersenyum.
“Selamat malam ibu, mimpi indah ya”
Sisca meninggalkan ibu,setelah memastikan bahwa ibu benar-benar sudah terlelap dalam tidur indahnya.
Keesokan paginya..
“Selamat pagi ibu”, ujar Sisca sambil membuka tirai kamar ibu.
Sisca merasa ada sesuatu yang aneh terjadi, tak biasa ibunya belum bangun padahal jam menunjukkan pukul  8 pagi. Tetapi, dia langsung menepis pikiran buruk yang sempat muncul didalam kepalanya.  Sisca menyuntuh tubuh ibu yang terkujur di tempat tidur, namun tak ada reaksi sedikit pun. Sisca reflek mengecheck denyut nadi ibunya, tak ada tanda-tanda nadi berdenyut. Sisca semakin panik, ia berlari keluar kamar mencari kakaknya. Setelah dia menemukan Mahesa, Sisca langsung menarik da mengajak kakaknya pergi melihat ibu di kamar.
“Lebih baik kau tenang dirimu dulu. Akan kita pastikan bersama setelah dokter sampai disini”, jelas Mahesa.
“Iya”
Beberapa saat kemudian, dokter datang dan langsung memeriksa keadaan ibu Mahesa. Setelah dokter menyampaikan bahwa ibunya benar-benar telah meninggal, Sisca menangis, dia tidak percaya bahwa secepat ini dia dan kakaknya ditinggalkan oleh ibunya. Mahesa berusaha tegar menerima kenyataan itu. Setelah pemakaman selesai, Mahesa mengambil sepucuk surat disaku jacketnya.
“Dik,  mari kita baca bersama surat yang ibu tulis, seperti yang telah dipesankan kepada kita. Cukup sudah menangismu, apakah kau mau ibu melihatmu bersedih seperti ini?”
“Tidak”, jawab Sisca.
“Bagus kalau begitu”, jawab mahesa tersenyum sambil membuka surat yang ada di tangannya.


Folded Corner: Anakku, Ibu merasa waktu itu tidak lama lagi. Maafkan saya anakku, karena saya bertambah tua dan tidak berdaya.
Ibu masih ingat, ketika kalian masih balita, saat kalian belajar berjalan untuk pertama kalinya. Kalian sangat lucu, dan lagi saat kalian merengek meminta untuk membelikan barang yang kalian inginkan. 
Saat kalian beranjak dewasa dan saya mulai semakin tua, waktu yang kita miliki bersama tidak seperti dulu lagi saat kalian masih anak-anak.Tapi, saya sangat berterima kasih karena telah merawat saya sampai detik terakhir saya hidup di dunia ini.
Saat kalian membaca surat ini, mungkin Ibu dan Ayah sudah bahagia melihat kalian dari Surga. Dan kalian tak perlu khawatir, karena ketika saya bertemu Sang Pencipta, saya akan mengatakan bahwa kalian adalah anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan tak lupa saya membisikkan ditelingaNya untuk selalu melindungi anakku.
Terima kasih atas semua perhatian dan kasih sayang yang telah kalian berikan kepada Ibu dan Ayah. Saya mencintai kalian dengan semua cinta…

Ibu & Ayah
 
















-         Selesai –