Seseorang
mengulurkan tangannya, mencoba meraih sesuatu dimeja yang berada di samping
tempat tidurnya.
“pyyaarrr”.
Tanpa
sengaja dia menjatuhkan benda yang berada di atas meja. Beberapa detik setelah
bunyi tersebut seseorang lain bergegas datang, raut wajahnya tampak jengkel
melihat kejadian itu.
“Aarrgghhh,
apa-apaan ini? kau memecahkannya lagi? sudah berapa banyak yang kau pecahkan?”,
marah seorang pemuda.
“Maafkan
aku anakku, sungguh aku tak bermaksud melakukan semua itu. Aku yakin sudah
meraih gelas itu tadi, aku tidak tau kalau ternyata malah menjatuhkannya.”
gumam lelaki tua ini dalam hati.
“Apa
kau tidak bisa menjawab semua pertanyaanku? huh, sepertinya kau benar-benar
tuli sekarang”, bentak pemuda itu sekarang.
“Tidak,
aku tidak tuli nak. Mengapa kau mengatakanku seperti itu Mahesa, anakku”,
lelaki tua ini menggumam lagi karena tak ada tenaga untuk mengeluarkan suara.
“Sudahlah,
lebih baik aku pergi meninggalkanmu lelaki tua. Aku akan menghubungi Sisca
untuk menemanimu selama aku pergi, agar tidak semakin banyak perabotanku yang
akan kau pecahkan”, ujar Mahesa sembari meninggalkan ayahnya.
**** **** ****
“Ya
Tuhan, kenapa anak yang aku besarkan menjadi seperti ini. Sesungguhnya aku
ingin dia merawatku dengan penuh kasih. Apakah dia sudah tidak mau merawat aku?
lelaki yang semakin tua dan hanya menyusahkan orang-orang disekelilingku?”, cerita
lelaki tua kepada Tuhannya sembari mentikkan air mata.
“kriieekk”,
Seseorang telah membuka pintu kamar.
“Selamat
siang ayah, hari ini Sisca akan menjagamu selama kakak tidak dirumah. tetapi,
mengapa ayah menitikkan air mata? apa yang sedang terjadi”, ujar Sisca.
Sang
ayah hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan anaknya.
“Terima
kasih Tuhan, kau telah menyejukkan hatiku dengan mendatangkan putriku ini”,
gumam ayah.
“Ayah
pasti belum makan siang kan?, karena kak Mahesa tidak bisa memasak, tunggu sebentar
yah aku akan membuatkan makanan yang lezat dan kita akan makan bersama. Aku janji
tak akan meninggalkanmu lama”.
Beberapa
menit kemudian,
“Ayo
ayah kita makan bersama, apakah ayah mau
kalau kita makan di ruang makan?”, tanya Sisca lembut.
“
I..i..iya nak”, jawab ayah terbata.
“Baiklah
yah, Ibu juga telah menunggu di meja makan”.
Makan
siang ini terasa sangat tenang, ketiga anggota keluarga ini menikmati makanan
mereka. Sisca menyuap sang ayah karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk
melakukan itu sendiri. Ibu meski usianya tak jauh berbeda dengan ayah, namun
dia masih bisa melakukan hal sendiri meski harus dilakukan dalam waktu yang
tidak cepat dan berada di kursi roda. Selain itu, Sisca pun tak lupa mengajak
bercengkrama kedua orang tuanya, tak jarang kedua orang yang telah lanjut usia
itu menyunggingkan senyum bahagia karena ulah-ulah yang dilakukan putri bungsu mereka.
“Selesai,
sepertinya ayah dan ibu harus beristirahat sekarang. Sini aku bantu kembali ke
kamar, tapi sebelum istirahat, ayah minum obat dulu ya, supaya lekas sembuh”.
Ayah
hanya menjawab dengan anggukan.
“Apa
kamu mau ibu bantu nak?”, ujar ibu.
“Tidak perlu bu, akan aku bereskan semua ini setelah
mengantar ayah dan ibu ke kamar. lebih baik ibu menemani ayah beristirahat”.
Matahari
telah terbenam yang menandakan hari mulai gelap. Sisca merebahkan tubuhnya di
kursi, tangannya pun mulai meraih sebuah remote.
“Huh!
kenapa tidak ada acara TV yang menarik sih”, gumamnya sendiri.
Akhirnya
Sisca memutuskan untuk beranjak dari tempatnya sekarang, melangkahkan kakinya
menuju sebuah kamar.
“Yah,
bu.. bolehakan kalau aku berada disini bersama kalian sekarang”
“Tentu
anakku. Maukah kau mendegarkan ibu bercerita?”
“Pasti
bu, akan aku dengarkan dengan baik semua yang ibu ceritakan”
“Apa
kau ingat bagaimana kau saat kecil dulu?”
“Ingat,
namun kenangannta mulai sedikit memudar bu”
“Kamu
dan kakakmu, Mahesa. Kalian adalah dua orang yang sangat ibu cintai di dunia
ini. Dulu, Mahesa selalu saja menginkan apa yang ibu atau ayah berikan
kepadamu. Tak jarang dia selalu merengek sampai apa yang dia mau terwujud”,
jelas ibu.
“Ah,
iya. seperti saat aku berumur 4 tahun, waktu itu Ayah membelikanku sebuah
balon. Kak Mahesa yang lebih tua 3 tahun dariku juga ingin balon sampai dia menangis
agar ayah juga membelikannya balon seperti aku”
“Iya
nak. Tapi, entah kenapa dengan Mahesa yang sekarang seakan-akan aku tidak
menganal anakku sendiri. Dia selalu berbicara dengan nada suara yang hamir
berteriak, bahkan tak jarang dia mengatakan ayah dan ibunya ini tuli. ingin
rasanya ibu mengobrol seperti ini dengan kakakmu itu, tapi dia tidak pernah ada
waktu untuk mendengarkan crita kami”, ujar ibu sembari meneteskan air mata.
“Jangan
menangis bu, Sisca akan bicara dengan kak Mahesa tentang ini. Ibu tenang saja,
tidak perlu memikirkan hal-hal yang seperti ini agar tidak jatuh sakit”, jawab
Sisca penuh perhatian.
“Karena
ayah dan ibu merasa waktu kami tidak akan lama lagi nak”
“Apa
yang ibu katakan? Jangan berbicara yang tidak-tidak seperti itu”
Terdengar
suara pintu terbuka. Sisca yang menyadari hal itu segera bangkit dan pamit untuk
meninggalkan kamar orang tuanya.
“Sepertinya
kak Mahesa sudah pulang bu, Sisca buatkan kakak minum dulu ya”
**** **** ****
“Malam
kak, kenapa hari ini pulang sangat larut?”, ujar Sisca saat bertemu muka dengan
Mahesa.
“Sudah
jangan banyak tanya kamu. Dua orang tua yang tak berdaya itu sudah tidur?”
“Kak,
jangan bicara sseperti itu. Apa ayah dan ibu pernah berbuat salah sampai kakak
mengatakan mereka seperti itu?”
“Tentu
tidak. Tapi, aku sudah muak dengan mereka. Mereka itu sudah tua, menyusahkan,
belum lagi..”
“Cukup
kak, jangan teruskan lagi ucapanmu”, potong Sisca.
“Terserah
kamu sajalah, aku capek, mau istirahat saja daripada dengar omonganmu itu”
Mahesa
langsung melenggang meninggalkan Sisca yang berdiri didepannya. Didalam kamar,
Mahesa merenung apa yang telah dilakukan akhir-akhir ini kepada kedua orang
tuanya. Tanpa dia sadari, ia telah menitikkan air mata. Setelah Mahesa
tersadar, ia langsung berlari menuju kamar orangtuanya.
“Ayah,
Ibu maafkan semua sikap Mahesa selama ini”
“Sudah
nak, jangan menangis. Kami seudah memaafkanmu sebelum kau meminta maaf”, sahut
ibu.
“Tidak
seharusnya aku berbuat seperti itu kepada kalian”
“Cukup
nak. Jangan kau teruskan lagi”
Sejak
kejadian itu, keluarga ini semakin menjadi keluarga yang bahagia. Namun 4 bulan
kemudian, Ayah Sisca dan Mahesa meninggal dunia. Duka yang sangat mendalam
menyelimuti keluarga Mehesa, namun terdapat suatu penyeselan pada diri Mahesa
karena pada saat-saat terakhir hidup sang ayah, dia tidak berbakti.
“Sudah
kak, kita tidak seharusnya terus belarut dalam kesedihan”, Sisca membuyarkan
lamunan Mahesa.
“Eh,
iya. Tapi, aku masi menyesal disaat-saat terakhir ayah, aku tidak membuatnya
bahagia”
“Sebenarnya
ayah selalu bangga dengan semua prestasi kakak”
“Bagaimana
dengan keadaan ibu?”, Mahesa mengalihkan pembicaraan.
“Ibu?
Kondisi ibu semakin menurun kak”
“Kita
bawa saja ke dokter untuk memastikan kondisi tubuh ibu”
“Baiklah,
akan aku siapkan semua keperluan ibu”
**** **** ****
Dikamar,
Ibu menulis sebuah surat diatas kursi rodanya. Entah apa yang dia tulis, tapi
dia menitikkan air mata kemudian tersenyum. Secara tiba-tiba Mahesa masuk
kedalam kamar ibu, dengan cepat ibu menyembunyikan surat yang telah dia
tulisnya kedalam laci meja riasnya.
“Bu,
sedang apa?”
“Sedang
melamun, ibu merindukan ayahmu, nak”
“Ayah
juga pasti merindukan ibu disana, Mahesa yakin ayah sudah tenang di alam sana”
“Iya,
tapi ibu ingin ikut bersamanya”
“Apa
yang ibu katakan? jangan mengatakan hal yang tidak-tidak bu. Aku dan adik ingin
bersama ibu lebih lama. Jangan tinggal kami dulu”
“Ibu
juga menginkan bersama kalian lebih lama lagi nak, tapi ibu merasa waktu itu
tidak lama lagi”
“Sudah,
ibu jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, lebih baik kita pergi ke dokter
saja ya”
“Tidak
perlu nak, jangan paksa ibu untuk pergi ke dokter. Ibu mohon”
“Baiklah,
kalau begitu aku bantu ibu mendorong kursi roda, kita berkumpul diruang
keluarga”
“Terima
kasih banyak atas semua waktu yang telah kau luangkan untuk ibu yang sudah
tidak berguna ini. Tapi, tolong ambilkan surat yang ada di laci meja rias ibu,
nak.”
Mahesa
bergegas mengambil surat yang diminta oleh ibu, kemudian mereka segera menuju
ruang keluarga untuk berkumpul bersama. Mereka menonton TV bersama, terkadang
mengobrol dan juga bercanda bersama.
“Nak,
kalian harus membaca surat yang ibu tulis ini, namun kalian baru boleh membaca
jika ibu telah meninggal. Kalian mau berjanji pada ibu?”, ujar ibu membuka
pembicaraan sambil menyerakan sepucuk surat kepada Mahesa.
“Baik
bu, akan kami turuti semua yang ibu pinta”, jawab Sisca sedih.
“Terima
kasih karena kalian telah menjadi anak-anak yang bisa ibu banggakan. Ibu sayang
sekali dengan kalian berdua.”
“Kami
juga sangat sayang pada ibu. benarkan Sisca?”, sahut Mahesa.
Sisca
hanya menganggukan kepala lemah.
“Mata
ibu terasa lelah, menonton TV terus menerus. Bolehkah kalau ibu beristirahat
lebih cepat?”
“Tentu
saja, biar Sisca saja yang mengantar ibu ke kamar ya”
Sisca
langsung berdiri dan membantu ibu mendorong kursi roda, mereka beranjak
meninggalkan ruang keluarga.
“Sepertinya
kamu juga harus cepat pergi tidur, bukankah bsk harus pergi kuliah?”
“Iya,
bu”
“Katakan
juga pada kakakmu utuk cepat pergi tidur. Sepertinya, malam ini ibu tidur lebih
nyenyak dari biasanya. Selamat malam anakku”, kata ibu sambil tersenyum.
“Selamat
malam ibu, mimpi indah ya”
Sisca
meninggalkan ibu,setelah memastikan bahwa ibu benar-benar sudah terlelap dalam
tidur indahnya.
Keesokan
paginya..
“Selamat
pagi ibu”, ujar Sisca sambil membuka tirai kamar ibu.
Sisca
merasa ada sesuatu yang aneh terjadi, tak biasa ibunya belum bangun padahal jam
menunjukkan pukul 8 pagi. Tetapi, dia
langsung menepis pikiran buruk yang sempat muncul didalam kepalanya. Sisca menyuntuh tubuh ibu yang terkujur di
tempat tidur, namun tak ada reaksi sedikit pun. Sisca reflek mengecheck denyut
nadi ibunya, tak ada tanda-tanda nadi berdenyut. Sisca semakin panik, ia berlari
keluar kamar mencari kakaknya. Setelah dia menemukan Mahesa, Sisca langsung
menarik da mengajak kakaknya pergi melihat ibu di kamar.
“Lebih
baik kau tenang dirimu dulu. Akan kita pastikan bersama setelah dokter sampai
disini”, jelas Mahesa.
“Iya”
Beberapa
saat kemudian, dokter datang dan langsung memeriksa keadaan ibu Mahesa. Setelah
dokter menyampaikan bahwa ibunya benar-benar telah meninggal, Sisca menangis,
dia tidak percaya bahwa secepat ini dia dan kakaknya ditinggalkan oleh ibunya.
Mahesa berusaha tegar menerima kenyataan itu. Setelah pemakaman selesai, Mahesa
mengambil sepucuk surat disaku jacketnya.
“Dik, mari kita baca bersama surat yang ibu tulis,
seperti yang telah dipesankan kepada kita. Cukup sudah menangismu, apakah kau
mau ibu melihatmu bersedih seperti ini?”
“Tidak”,
jawab Sisca.
“Bagus
kalau begitu”, jawab mahesa tersenyum sambil membuka surat yang ada di
tangannya.
![]() |
-
Selesai
–
